CIAMIS, Shotlist.id – Pandemi Covid-19 memang telah berlalu. Namun, luka, pelajaran, dan perenungan yang ditinggalkannya masih menjadi bagian dari perjalanan banyak orang.
Melalui buku kumpulan puisi Antologi Badai, Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, KH. Dr. Fadlil Yani Ainusyamsi, MBA., M.Ag., atau yang akrab disapa Ang Icep, mengajak masyarakat memaknai setiap ujian sebagai jalan menuju ketangguhan dan kedewasaan.
Pesan tersebut disampaikan dalam peluncuran Antologi Badai yang dikemas melalui kegiatan Tafakur dan Meditasi Puisi di Joglosono Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, Rabu (5/8/2026) malam.
Acara berlangsung khidmat dengan dihadiri penyair, budayawan, seniman, guru, santri, serta tokoh masyarakat yang bersama-sama membacakan puisi-puisi karya Ang Icep.
Buku yang memuat hampir 80 puisi itu ditulis sepanjang 2020 hingga 2022, ketika pandemi membatasi ruang gerak masyarakat.
Meski naskahnya telah rampung beberapa tahun lalu, karya tersebut baru diterbitkan dan diperkenalkan kepada publik pada tahun ini.
Menurut Ang Icep, setiap puisi lahir dari pengalaman batin selama menghadapi masa yang penuh ketidakpastian.
Karena itu, Antologi Badai tidak hanya berbicara tentang pandemi, tetapi juga menghadirkan refleksi mengenai ketabahan, kritik sosial, harapan, hingga perjalanan manusia dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
“Jangan mudah menyalahkan orang lain. Banyak hal yang terjadi dalam hidup merupakan konsekuensi dari sikap dan perilaku kita sendiri. Pesan itulah yang ingin saya sampaikan melalui puisi-puisi ini,” katanya.
Ia juga mengajak generasi muda agar tetap produktif berkarya di tengah perubahan zaman. Menurutnya, kemajuan teknologi tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berkreasi.
Ang Icep mengungkapkan seluruh puisi dalam Antologi Badai ditulis secara manual sebagai bagian dari proses perenungan.
Baginya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai pemantik ide, tetapi tidak akan pernah menggantikan rasa dan kejujuran yang menjadi ruh sebuah karya sastra.
“Teknologi boleh dimanfaatkan untuk memancing ide, tetapi rasa dalam puisi tidak bisa digantikan. Semua orang bisa berkarya, yang terpenting adalah kemauan untuk memulai,” ujarnya.
Pandangan senada disampaikan mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Drs. H. Akasah, M.BA. Ia menilai Antologi Badai menjadi bukti bahwa sastra mampu mengabadikan perjalanan zaman sekaligus membangun karakter masyarakat.
Menurut Akasah, puisi-puisi Ang Icep lahir dari pengalaman yang jujur sehingga memiliki kekuatan menyentuh pembaca.
Perpaduan sastra dengan nilai-nilai religius, lanjutnya, menjadikan karya tersebut bukan hanya indah dinikmati, tetapi juga sarat pesan moral.
“Beliau menunjukkan bahwa sastra dan nilai-nilai agama dapat berjalan beriringan. Dari perpaduan itulah lahir karya yang bukan hanya indah dibaca, tetapi juga mengajak pembacanya untuk merenung dan memperbaiki diri,” jelasnya.
Akasah berharap kehadiran Antologi Badai mampu menginspirasi lahirnya penulis-penulis baru di Kabupaten Ciamis.
Ia juga mengingatkan agar perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), dimanfaatkan sebagai pendukung kreativitas, bukan menggantikan proses berpikir dan berkarya.
“Literasi harus terus hidup agar generasi muda mampu meninggalkan jejak pemikiran yang bermanfaat bagi masa depan,” pungkasnya.***














