JATINANGOR, Shotlist.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya membekali ratusan mahasiswa baru Universitas Padjadjaran (Unpad) dengan literasi keuangan agar mampu mengelola keuangan secara bijak sekaligus terhindar dari berbagai aktivitas keuangan ilegal.
Edukasi tersebut diberikan dalam rangkaian Pengenalan Mahasiswa Baru (PAMUKA) Universitas Padjadjaran Tahun Akademik 2026/2027 di Aula 1 Gedung PPBS B Universitas Padjadjaran, Kamis (6/8/2026).
Pembekalan tersebut menjadi bagian dari upaya OJK memperkuat literasi dan inklusi keuangan di kalangan generasi muda.
Mahasiswa didorong memahami hak dan kewajiban sebagai konsumen jasa keuangan serta lebih waspada terhadap berbagai modus kejahatan keuangan yang semakin berkembang di ruang digital.
Asisten Manajer OJK Tasikmalaya, Andriani Alfiah, mengatakan mahasiswa merupakan kelompok yang memiliki potensi besar menjadi agen perubahan, tetapi juga rentan menjadi sasaran berbagai modus kejahatan keuangan.
Mulai dari pinjaman online ilegal, investasi ilegal, penipuan digital hingga perjudian online menjadi sejumlah ancaman yang perlu diwaspadai generasi muda.
“Memasuki dunia perkuliahan menjadi awal kemandirian finansial bagi banyak mahasiswa. Karena itu, penting untuk membangun kebiasaan mengelola keuangan secara bijak, memahami hak dan kewajiban sebagai konsumen jasa keuangan, serta selalu menerapkan prinsip 2L, yaitu Legal dan Logis, sebelum menggunakan produk atau layanan keuangan,” kata Andriani.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah tergiur tawaran layanan keuangan yang menjanjikan keuntungan cepat maupun kemudahan mendapatkan pinjaman tanpa mempertimbangkan risiko.
“Jangan sampai masa depan yang seharusnya dipenuhi prestasi justru terganggu karena terjebak pinjaman online ilegal, investasi ilegal, maupun berbagai modus penipuan digital,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, OJK juga mengingatkan mahasiswa agar bijak menggunakan layanan paylater.
Fasilitas pembiayaan tersebut sebaiknya digunakan sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial, bukan sekadar memenuhi gaya hidup konsumtif.
Mahasiswa juga diminta tidak menggunakan layanan pembiayaan hanya karena mengikuti tren atau fenomena Fear of Missing Out (FOMO).
Kemampuan membayar harus menjadi pertimbangan utama sebelum menggunakan fasilitas pembiayaan.
Sebab, penggunaan yang tidak terkendali berpotensi menimbulkan beban utang dan mengganggu kondisi keuangan di masa mendatang.
OJK juga mendorong mahasiswa membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak awal memasuki dunia perkuliahan, termasuk membedakan kebutuhan dan keinginan serta memahami konsekuensi setiap keputusan keuangan.
Kepala Kantor Pengelolaan Pendidikan Jarak Jauh Universitas Padjadjaran sekaligus Penanggung Jawab PAMUKA 2026, Mira Trisyani Koeryaman, mengatakan literasi keuangan menjadi salah satu materi penting bagi mahasiswa baru.
Terlebih, berbagai modus kejahatan keuangan saat ini semakin banyak menyasar generasi muda.
“Berbeda dengan tahun sebelumnya, PAMUKA 2026 melibatkan sejumlah instansi eksternal untuk memberikan edukasi mengenai literasi keuangan, keamanan kampus, dan perlindungan kesehatan bagi mahasiswa baru,” ujar Mira.
Menurutnya, pembekalan tersebut diharapkan dapat mencegah berbagai persoalan yang berpotensi dialami mahasiswa selama menjalani kehidupan perkuliahan, termasuk menjadi korban pinjaman online ilegal maupun kejahatan keuangan lainnya.
Melalui edukasi tersebut, OJK berharap mahasiswa Unpad tidak hanya memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga kecerdasan finansial sebagai bekal menghadapi kehidupan kampus hingga memasuki dunia kerja.
Mahasiswa juga diharapkan mampu menjadi agen perubahan dengan menyebarluaskan informasi yang benar mengenai produk dan layanan jasa keuangan kepada keluarga maupun masyarakat.
Dengan meningkatnya literasi keuangan, generasi muda diharapkan semakin mampu mengambil keputusan finansial secara bijak sekaligus berperan aktif dalam mencegah maraknya aktivitas keuangan ilegal.***














