banner 728x250

Bendera Raksasa 20×10 Meter Berkibar di Jembatan Sukamenak, Warga Tasikmalaya-Ciamis Rayakan HUT RI Bersama

Warga Tasikmalaya dan Ciamis kibarkan bendera 20x10 meter di Jembatan Sukamenak, dilanjutkan bersih sungai dan botram

Warga mengibarkan bendera Merah Putih berukuran 20x10 meter secara vertikal di Jembatan Gantung Sukamenak, Kota Tasikmalaya, Senin (17/8/2026). Shotlist.id/Foto: AB
Warga mengibarkan bendera Merah Putih berukuran 20x10 meter secara vertikal di Jembatan Gantung Sukamenak, Kota Tasikmalaya, Senin (17/8/2026). Shotlist.id/Foto: AB
banner 120x600

TASIKMALAYA, Shotlist.id – Derit tali dan suara langkah kaki terdengar dari Jembatan Gantung Sukamenak, Kampung Benteng, Kelurahan Sukamenak, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (17/8/2026).

Pagi itu, jembatan yang menghubungkan wilayah Kota Tasikmalaya dengan Desa Wanasigra, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, berubah menjadi lokasi upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sekitar 200 hingga 300 warga dari Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis berkumpul.

Sebagian berdiri di atas jembatan, sementara warga lainnya menyaksikan dari tepian Sungai Citanduy yang mengalir di bawahnya.

Suasana yang semula ramai perlahan berubah khidmat ketika pembacaan Detik-detik Proklamasi dimulai.

Warga berdiri tegak, menyaksikan upacara yang digelar dengan latar jembatan dan aliran Sungai Citanduy.

Sesaat kemudian, perhatian warga tertuju kepada lima pengibar bendera, yakni Fajar Utama, Rakha Alkahfi, Nanan Sagara, Cepi Rizal, dan Asep Didu.

Mereka bersiap menarik tali untuk mengibarkan Sang Merah Putih dengan teknik vertikal.

Bendera raksasa berukuran 20 x 10 meter perlahan bergerak dari bawah menuju bagian atas jembatan.

Kain merah putih itu membentang panjang di antara struktur jembatan, menciptakan pemandangan yang berbeda dari pengibaran bendera pada umumnya.

Namun, mengibarkan bendera sebesar itu bukan pekerjaan mudah.

Hujan yang turun sebelumnya membuat kain menjadi lebih berat.

Tarikan tali harus dilakukan secara perlahan dan kompak karena posisi bendera berada dari bawah menuju bagian atas jembatan.

“Pengibaran tahun ini berbeda karena ukuran benderanya lebih besar. Tantangannya juga lebih berat, terutama saat menarik bendera dari bawah ke atas,” ujar Ketua pelaksana sekaligus pengibar bendera, Fajar Utama.

Ukuran bendera tahun ini mencapai 20 x 10 meter, jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 10 x 6 meter.

Tarikan demi tarikan akhirnya membuahkan hasil. Bendera berhasil terbentang sempurna.

Tepuk tangan dan sorak warga pecah, disusul kembang api dan kepulan smoke yang menambah suasana perayaan kemerdekaan.

Bagi warga, momen tersebut bukan hanya tentang mengibarkan bendera, tetapi juga tentang memperlihatkan semangat kebersamaan dua wilayah yang dipisahkan batas administratif.

Usai upacara, warga tidak langsung meninggalkan lokasi. Mereka turun ke sekitar Sungai Citanduy untuk melakukan aksi bersih-bersih sampah.

Dengan peralatan sederhana, warga memungut sampah di sekitar sungai. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan kemerdekaan sekaligus pengingat bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

Suasana kemudian berubah lebih meriah ketika warga mengikuti berbagai perlombaan air. Tawa dan sorak terdengar dari sekitar sungai.

Anak-anak, pemuda hingga orang tua ikut menikmati permainan yang digelar secara sederhana.

Ketua RT/RW 04/06, Ai Tati, mengatakan peringatan kemerdekaan di Jembatan Gantung Sukamenak bukan sekadar kegiatan seremonial.

Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan warga dari dua wilayah sekaligus mempererat tali silaturahmi.

Kehadiran warga dari Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis, katanya, menunjukkan bahwa batas wilayah administrasi tidak menjadi penghalang untuk merayakan kemerdekaan secara bersama-sama.

Menjelang siang, suasana semakin hangat. Warga berkumpul dalam tradisi botram atau makan bersama dengan hidangan nasi liwet.

Tidak ada sekat antara warga Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis. Mereka duduk berdampingan, menyantap makanan, berbincang dan bercanda dalam suasana kekeluargaan.

Di tempat itu, Jembatan Gantung Sukamenak tidak hanya menjadi jalur penghubung.

Jembatan tersebut menjadi ruang pertemuan masyarakat yang selama ini memiliki hubungan sosial dan aktivitas bersama.

Fajar berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan setiap tahun dengan jumlah peserta yang semakin banyak.

“Harapannya silaturahmi antarwarga semakin erat dan keberadaan akses jalan ini juga bisa membantu perekonomian masyarakat,” katanya.

Ketika rangkaian kegiatan berakhir, keramaian perlahan surut. Sungai Citanduy kembali mengalir di bawah jembatan. Namun, jejak perayaan kemerdekaan masih terasa.

Merah Putih yang membentang vertikal menjadi simbol kebersamaan warga dua wilayah.

Di jembatan itu, kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui pembacaan Proklamasi dan pengibaran bendera.

Ia hadir dalam gotong royong membersihkan sungai, keriuhan perlombaan air, serta sepiring nasi liwet yang dinikmati bersama.

Bagi warga Sukamenak dan Wanasigra, Merah Putih hari itu seolah menghubungkan dua sisi jembatan sebagaimana kemerdekaan yang menyatukan masyarakat tanpa mengenal batas wilayah.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *