banner 728x250

BI Corner Connect 2026, BI Tasikmalaya Dorong Perpustakaan Jadi Pusat Edukasi dan Literasi Kebanksentralan

BI Tasikmalaya mendorong transformasi BI Corner menjadi pusat literasi kebanksentralan dengan memperkuat kapasitas pustakawan melalui teknologi AI

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya Azhar Livaldy Setyawigoena saat menyampaikan sambutan pada kegiatan BI Corner Connect 2026, Kamis (20/8/2026). Shotlist.id/Foto: Dok. BI Tasikmalaya
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya Azhar Livaldy Setyawigoena saat menyampaikan sambutan pada kegiatan BI Corner Connect 2026, Kamis (20/8/2026). Shotlist.id/Foto: Dok. BI Tasikmalaya
banner 120x600

TASIKMALAYA, Shotlist.id – Bank Indonesia (BI) Tasikmalaya terus memperkuat ekosistem literasi ekonomi dan kebanksentralan melalui kegiatan BI Corner Connect 2026: Transformasi Perpustakaan sebagai Pusat Edukasi, Literasi, dan Riset Kebanksentralan, Kamis (20/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong BI Corner agar tidak hanya berfungsi sebagai ruang penyedia koleksi buku, tetapi berkembang menjadi ruang belajar yang aktif, adaptif, dan relevan bagi masyarakat.

Melalui transformasi tersebut, BI Corner diharapkan mampu memperluas pemahaman masyarakat mengenai ekonomi, kebanksentralan, Rupiah, sistem pembayaran, hingga pelindungan konsumen.

Momentum BI Corner Connect 2026 ditandai dengan peluncuran program yang ditandai secara simbolis melalui penyerahan buku kebanksentralan oleh Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya, Azhar Livaldy Setyawigoena, kepada perwakilan Perpustakaan Universitas Siliwangi.

Penyerahan tersebut turut didampingi perwakilan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah kabupaten/kota se-Priangan Timur.

Kegiatan tersebut mencerminkan sinergi antara Bank Indonesia, lingkungan pendidikan, perpustakaan, dan pemerintah daerah dalam memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan yang kredibel dan berkualitas.

Azhar mengatakan, pustakawan dan pengelola BI Corner memiliki posisi strategis dalam memperluas jangkauan edukasi Bank Indonesia kepada masyarakat.

“Pustakawan dan pengelola BI Corner merupakan mitra strategis dalam memperluas literasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya mengenai ekonomi, kebanksentralan, Rupiah, serta sistem pembayaran,” ujarnya.

Menurut Azhar, perkembangan teknologi dan digitalisasi informasi turut mengubah peran perpustakaan.

Perpustakaan kini tidak hanya menjadi tempat menyimpan dan membaca koleksi, tetapi juga dapat berkembang sebagai ruang belajar yang hidup, interaktif, dan inklusif.

Dalam kondisi tersebut, pustakawan memiliki ruang yang semakin luas untuk berperan sebagai curator of knowledge, digital navigator, storyteller, hingga digital educator.

Peran tersebut memungkinkan pustakawan memilih, mengemas, dan menyampaikan informasi secara relevan sehingga lebih mudah dipahami masyarakat.

Transformasi perpustakaan dinilai semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital.

BI mencatat keberadaan sekitar 219 ribu perpustakaan di Indonesia menjadi modal besar dalam memperkuat budaya literasi masyarakat.

Namun, tantangan ke depan tidak hanya berkaitan dengan perluasan akses terhadap perpustakaan.

Perpustakaan juga dituntut semakin inovatif dan adaptif serta mampu menghadirkan sumber informasi yang kredibel sesuai kebutuhan masyarakat.

Melalui BI Corner Connect 2026, Bank Indonesia mendorong BI Corner berkembang menjadi ruang belajar, ruang diskusi, ruang inovasi sekaligus ruang tumbuh bagi masyarakat.

BI Corner juga diharapkan dapat menjadi salah satu kanal edukasi Bank Indonesia untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai kebanksentralan dan berbagai kebijakan yang dikeluarkan Bank Indonesia.

Dengan demikian, aktivitas literasi tidak berhenti pada kegiatan membaca, tetapi berkembang menjadi proses pemahaman, diskusi, kreativitas, hingga pemanfaatan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mendukung transformasi tersebut, pustakawan dan pengelola BI Corner mendapatkan pembekalan mengenai sejumlah materi.

Materi tersebut meliputi kelembagaan bank sentral, Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah, sistem pembayaran digital, serta pelindungan konsumen.

Pengetahuan tersebut diharapkan dapat dikembangkan kembali secara kreatif melalui berbagai kegiatan edukasi bagi pelajar, mahasiswa, akademisi, maupun masyarakat di lingkungan masing-masing.

Penguatan kapasitas juga mencakup pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan perpustakaan digital dalam pengembangan layanan perpustakaan.

Selain itu, peserta mendapatkan pembekalan mengenai strategi content marketing dengan dukungan teknologi AI.

Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan membantu pustakawan dalam mengelola pengetahuan, mengembangkan konten edukatif, serta menyampaikan informasi secara lebih efektif dan kreatif sesuai karakteristik audiens.

Azhar menegaskan bahwa pemanfaatan AI dalam pengembangan perpustakaan tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran pustakawan.

Sebaliknya, teknologi tersebut dapat menjadi instrumen untuk memperkuat kapasitas pustakawan dalam mengelola pengetahuan dan menghadirkan pengalaman belajar yang lebih relevan.

“AI bukan untuk menggantikan peran pustakawan. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi instrumen untuk memperkuat peran pustakawan dalam mengelola pengetahuan dan menghadirkan pengalaman belajar yang semakin relevan bagi masyarakat,” ujarnya.

Dengan pemanfaatan teknologi digital secara tepat, pustakawan memiliki peluang untuk mengembangkan lebih banyak konten edukatif sekaligus memperluas jangkauan literasi.

Perpaduan antara kapasitas pustakawan, kualitas informasi, dan teknologi diharapkan semakin memperkuat posisi perpustakaan sebagai salah satu simpul penting dalam ekosistem literasi masyarakat.

Ke depan, BI Tasikmalaya akan terus memperkuat sinergi dengan perpustakaan, lingkungan pendidikan, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan.

Upaya tersebut diarahkan agar BI Corner semakin aktif, kreatif, dan relevan sebagai pusat edukasi, literasi, dan riset kebanksentralan.

Penguatan tersebut diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai peran dan kebijakan Bank Indonesia sekaligus mendukung terbentuknya masyarakat Priangan Timur yang semakin literat, adaptif, dan berdaya menghadapi perkembangan ekonomi serta teknologi.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *